Plantation Application Software
Defisit CPO di 2025 Berisiko Ekspansi Lahan Besar-besaran
Defisit CPO di 2025 Berisiko Ekspansi Lahan Besar-besaran
Defisit CPO di 2025 Berisiko Ekspansi Lahan Besar-besaran
HomenewsYou are here
Defisit CPO di 2025 Berisiko Ekspansi Lahan Besar-besaran

22/11/2020 410 Readers

Defisit Crude Palm Oil (CPO) atau kelapa sawit pada 2025 diperkirakan mencapai 1,26 hingga 108,63 juta ton CPO. Perhitungan ini merujuk pada setidaknya tiga skenario. Masing-masing yakni merupakan proyeksi dari B20, B30, dan B50.

Untuk skenario yang paling rendah, yakni skenario satu yang masih menjalankan B20, akumulasi defisit CPO sampai dengan 2025 itu 1,26 juta ton CPO.

Adapun proyeksi skenario dua, yakni mengikuti kondisi saat ini, yaitu B30. Setelah sebelumnya B20 pada 2016-2019, B15 pada 2015, dan B10 pada 2014 silam. Lalu dalam skenario tiga, akan menggunakan B50.

“Masa dari defisit itu juga berbeda-beda. Semakin progresif skenarionya, semakin cepat dan besar defisit CPO yang terjadi,” papar Kepala Kajian Ekonomi Lingkungan LPEM FEB Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah, dalam diskusi daring - Kebijakan Biodiesel Untuk Siapa, Rabu (18/11/2020).

Alin menjabarkan, melalui skenario tersebut, maka estimasi lahan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan biodisel masing-masing 3 persen, 39 persen, dan 70 persen dari luas lahan produktif kelapa sawit 13.356.211 hektare (Kementan 2019).

untuk memenuhi skenario tiga, skenario yang paling tinggi (B50) tahun depan, itu sebenarnya kita sudah menanam 5 juta hektar. Yang akhirnya itukan perlu waktu sekitar 3 tahun untuk tumbuh,” kata Alin.

Selanjutnya, di 2020 mestinya ada penambahan 1,69 hektar, 1,30 hektar di 2021, dan 1,11 hektar di 2022. “ini hanya untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan 2025,” kata Alin.

Keywords: cpo kelapa sawit

Untuk skenario yang paling rendah, yakni skenario satu yang masih menjalankan B20, akumulasi defisit CPO sampai dengan 2025 itu 1,26 juta ton CPO.

Adapun proyeksi skenario dua, yakni mengikuti kondisi saat ini, yaitu B30. Setelah sebelumnya B20 pada 2016-2019, B15 pada 2015, dan B10 pada 2014 silam. Lalu dalam skenario tiga, akan menggunakan B50.

“Masa dari defisit itu juga berbeda-beda. Semakin progresif skenarionya, semakin cepat dan besar defisit CPO yang terjadi,” papar Kepala Kajian Ekonomi Lingkungan LPEM FEB Universitas Indonesia, Alin Halimatussadiah, dalam diskusi daring - Kebijakan Biodiesel Untuk Siapa, Rabu (18/11/2020).

Alin menjabarkan, melalui skenario tersebut, maka estimasi lahan kelapa sawit untuk memenuhi kebutuhan biodisel masing-masing 3 persen, 39 persen, dan 70 persen dari luas lahan produktif kelapa sawit 13.356.211 hektare (Kementan 2019).

untuk memenuhi skenario tiga, skenario yang paling tinggi (B50) tahun depan, itu sebenarnya kita sudah menanam 5 juta hektar. Yang akhirnya itukan perlu waktu sekitar 3 tahun untuk tumbuh,” kata Alin.

Selanjutnya, di 2020 mestinya ada penambahan 1,69 hektar, 1,30 hektar di 2021, dan 1,11 hektar di 2022. “ini hanya untuk memenuhi kebutuhan sampai dengan 2025,” kata Alin.

Keywords: cpo kelapa sawit

Your Reliable Partner for Software Development and Solutions

www.ekomoditi.idwww.ekomoditi.id